Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

PEDIH vs HARAPAN

Kadang, dalam diam aku merenungi sesuatu... entah apa itu... tapi, ia selalu menghantui pikiranku... tentu ketika aku melihat sesuatu yang berhubungan dengan itu. Manusia. Satu kata  yang membuatku bingung dan heran kepada mereka. Manusia saat ini, di zaman ini... seperti haus akan kekuasaan. Tentu, di era melinium baru ini kita tak bisa apa-apa tanpa uang. Tapi, bukankah itu salah? Kekuasaan... tahta... jabatan... baik... akan kusampaikan pertanyaan-pertanyaan yang harus kalian jawab. Pemimpin kita... seharusnya memimpin kita, bukan? Contoh saja, hanya sebuah perumpamaan. disuatu negara ada seorang presiden atau raja dan dibantu oleh para menterinya dan ada juga DPR dan MPR pusat . Sementara negara itu dibagi menjadi beberapa provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur dan para staf nya. Tapi, ternyata tak semua orang di jabatan itu berlaku baik. Ada beberapa orang yang ingin menguasai roda pemerintahan. Aku juga tak tau mengapa... raja itu seperti boneka. Tak bergerak bahkan ta...

BUKAN SEKEDAR ANGAN!

Gambar
Masih seperti yang dulu... terombang ambing oleh angin yang bergemuruh. sementara kami para semut sedang terjebak di atas daun talas. kekuasaan? angin yang bernama kekuasaan itu merebut semua makanan yang dibawa si semut. bahkan si angin tak pernah melihat atau menyadari semut itu marah. perumpamaan yang baik ya?! benarkah? aku lelah... aku tau mereka juga begitu... tapi... akankah semua ini berubah? kapan masalah itu selesai? kekuasaan... menghancurkan semuanya!! apa mereka tau akibatnya? orang yag seharusnya ikut dalam masalah itu terganggu. termasuk KAMI! kami hanya ingin belajar... apa itu salah? kami hanya ingin belajar berbaur dengan masyarakat melalui organisasi... apa itu salah? jika mereka melarang kami, mereka melanggar UUD 1945 Pasal 28E  tentang Hak menyatakan pendapat dan perlindungan berorganisasi. jika benar, seharusnya ia ditangkap dan masuk ke bui! begitukah? pelanggaran yang lebih berat daripada seorang guru yang menarik telinga muridnya. bagaimana kami harus be...