PEDIH vs HARAPAN

Kadang, dalam diam aku merenungi sesuatu... entah apa itu... tapi, ia selalu menghantui pikiranku... tentu ketika aku melihat sesuatu yang berhubungan dengan itu. Manusia. Satu kata  yang membuatku bingung dan heran kepada mereka. Manusia saat ini, di zaman ini... seperti haus akan kekuasaan. Tentu, di era melinium baru ini kita tak bisa apa-apa tanpa uang. Tapi, bukankah itu salah? Kekuasaan... tahta... jabatan... baik... akan kusampaikan pertanyaan-pertanyaan yang harus kalian jawab. Pemimpin kita... seharusnya memimpin kita, bukan? Contoh saja, hanya sebuah perumpamaan. disuatu negara ada seorang presiden atau raja dan dibantu oleh para menterinya dan ada juga DPR dan MPR pusat . Sementara negara itu dibagi menjadi beberapa provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur dan para staf nya. Tapi, ternyata tak semua orang di jabatan itu berlaku baik. Ada beberapa orang yang ingin menguasai roda pemerintahan. Aku juga tak tau mengapa... raja itu seperti boneka. Tak bergerak bahkan tak bertindak atas kejadian atau tergedi yang dilakukan para menteri menterinya. Apakah ia tau jika korbannya adalah rakyat. Sementara sang gubernur yang memerintah pun diberhentikan jika menentang  kebijakannya. Lalu? Bagaimana rakyat harus bertindak? Bisa hancur negara ini... apa yang harus kita lakukan hai kawan? Haruskah kita memisahkan diri dari negara itu? Kalaupun melakukan demonstrasi di depan gedung DPR pun, peristiwa Trisakti 18 tahun silam mungkin akan terulang. Bisa-bisa kita dipenjara kan? Bahkan dibunuh habis-habisan oleh aparat keamanan. Wah... serba salah?! Bagaimana kawan? Apa kita akan tetap diam hingga negara ini dijajah kembali? Ahaha... lucu... menggelikan... mana rasa hormatmu hei penguasa? Mana harga dirimu? Kau mengecewakan pahlawan-pahlawan kita!! Apa kau sadar  itu? Dari korupsi-korupsi hingga menyalahgunakan wewenang seenakmu sendiri. apa bagusnya negara ini... sampah!  Rooten!! Aku lelah terlibat di masalah ini. mengapa harus dimasa ini?. perumpamaan yang bagus bukan?
Apa kau tau rasanya disakiti?
Apa kau tau rasanya dibenci?
Entah...
Ini bahkan seperti mati rasa!
Aku bahkan tak bisa merasakannya lagi
Sudah terlalu banyak kali kami dibenci...
Terlalu banyak kali kami diinjak...
Apa salah kami?
Kami hanya ingin belajar...
Kami hanya ingin menggapai mimpi kami...
Kami hanya ingin membuat orang tua kami bangga...
Kami hanya ingin menebar kebaikan...
Apa kami salah?
Mengapa kebaikan dihalang-halangi?
Kami yang sekarang seperti mawar tanpa duri...
Orang yang mendorong kami sudah menghilang...
Orang yang membimbing kami sudah lenyap
Orang mendukung kami hanya sebatas angan sekarang
Lantas, apa daya kami?
Kami sama seperti kalian tentunya...
Kami punya hati yang terkadang bisa sakit
Kami punya air mata yang terkadang dapat jatuh
Kami punya senyuman yang sebenarnya adalah palsu
Apa kau tau perjuangan kami disini?
Rasanya sangat berat untuk menjalaninya
Tapi,
Kawanku, kau boleh berkata seperti itu...
Tapi, ingat ini kawan...
Memang, kita tak menyerang...
Tapi kami akan bertahan...
Kami tak akan menangis...
Tapi kami akan bangkit
Dan bertekad untuk tetap maju kedepan..
Meski nyawa adalah taruhan!
Karena kami adalah harapan mereka
Mereka yang tersenyum penuh harap pada kami
Walau dihancurkan, disakiti, dilenyapkan
Kami kan tetap disini
Mempertahankan apa yang kami punya
Untuk satu tujuan, dan bersama, KAMI OPBS PASTI BISA!!!

KAMI DAN KALIAN
Kita tinggal satu atap dan satu nama keluarga
Lalu kami pergi? Atau diusir kah?
Yang sekarang atap itu menjadi rumah kegelapan
Tiada cermin kaca untuk memandang jiwa
Kami menghela nafas panjang, iba namun puas
Haruskah kami bantu?
Ah! Aku tak yakin kalian menerima bantuan kami
Kami iba akan kekerdilanmu setara kebencian kalian akan kejayaan kami
Antara rasa iba kami dan kebencian kalian, seolah sang waktu berhenti tertahan
Hingga ini tak akan pernah selesai
Kami menghampirimu sebagai teman, tapi kalian
Menyerang kami sebagai musuh
Antara persahabatan kami dan permusuhan kalian, terbentang jurang dalam

                                   Yang dialiri darah dan air mata.      

Kutipan puisi Khalil Gibran dengan perubahan seadanya.^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Kemerdekaan Kedua

Tumbuhan Pemakan Serangga, Si Kantong Semar

BUKAN SEKEDAR ANGAN!