Pahlawan Kemerdekaan Kedua
PAHLAWAN KEMERDEKAAN KEDUA
Angin musim kemarau mengayunkan pohon dan rerumputan yang berkuasa
penuh mengalahkan coklatnya tanah di puncak bukit kota. Tampak dua orang pemuda
bersandar dengan salah satu dari mereka bernyanyi dengan mata tepejam. Terlihat
anggun.
“Hey Klen! Apa
yang kamu pikirkan?”
“Tentang?”
jawabnya asal, pikirnya sedang jauh disana sebenarnya.
“Ketika di kelas
tadi kamu yang menulis surat tentang sikap kita sebagai generasi muda saat ini.
Itu kamu kan?”
“Aku tak tau apa
yang kamu maksud, Ben! Aku juga penasaran siapa yang menulis surat itu. Dan
sekarang, aku masih memikirkannya.” ujarnya.
“Aku tak percaya
jika bukan kamu yang menulisnya. Bukankah kamu yang biasanya bicara dengan gaya
khas seorang detektif tentang Indonesia yang belum merdeka saat ini. Kupikir
ini rencanamu, Klen. Kamu menulis surat itu diam-diam agar terlihat seseorang
sedang menyuruh kita untuk berubah menjadi generasi yang diinginkan para
pahlawan. Aku tahu anak seusia kita sekarang sudah tak peduli tentang itu lagi,
tapi kamu serius itu bukan kamu?”
“Aha, kamu jenius,
Ben. Itu memang bukan aku. Tapi sepertinya aku tahu siapa yang menulisnya.
Semoga saja aku benar.” senyum khas seorang pahlawan baru kepada sobatnya, Beno.
Bulan Agustus sudah memulai menunjukkan tanggal mudanya. Tapi
pelajaran di kelas masih tampak sibuk dengan materi dan latihan soal yang
melelahkan otak. Begitupun dengan pelajaran Sejarah Indonesia. Materi mengenai Perjuangan
mempertahankan kemerdekaan masih saja belum terselesaikan seperti teka-teki
yang memang ditujukan untuk tidak diselesaikan. Sungguh rumit.
“Selamat Pagi, Murid-murid!” sapa seorang guru Sejarah Indonesia
yang ada di salah satu sekolah itu. Pak Harsana. Sosok guru yang piawainya
seperti Bung Tomo sedang berorasi di tengah perjuangan mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Menjadikan pelajaran Sejarah Indonesia yang tadinya
membosankan hanya berisi tentang tokoh masa lalu dan teori tak masuk akal
tentang peradaban manusia dari kera menjadi wahana permainan 3 dimensi dan terasa
ikut terlibat dalam seluruh peristiwa kehidupan masa lalu.
“Siapa diantara
kalian tau mengenai arti kemerdekaan? Kemerdekaan ini adalah omong kosong!
Kemerdekaan yang tertulis di buku kalian hanya sebuah teori berlandaskan teori.
Bukan itu, Nak! Jadi, apa itu merdeka?” Hening. Bukan hening karena tak
mengerti apa yang dimaksud oleh sosok
guru itu, melainkan berpikir apa yang Pak Harsana maksud tentang
kemerdekaan yang ada di buku hanya berlandaskan teori. Hal itu membuat semua siswa
memutar keras otak mereka. Hingga pada akhirnya 2 sosok pahlawan baru
mengangkat tangan mereka.
“Kau! Coba
jelaskan apa kemerdekaan itu?”
“Tidak pak, saya
hanya mau bertanya. Menurut Bapak, apakah Indonesia itu sudah merdeka?”
“Yah, bapak pikir
kamu yang akan menjelaskannya. Jika bapak yang menjelaskan hal itu sama saja
bapak menjawab pertanyaan bapak sendiri. Ya sudah, sebelum itu siapa namamu?”
“Klen pak. Tapi,
untuk apa pak, nama saya?”
“Untuk mengurangi
nilaimu. Karena sudah menipu saya!” ucap pak guru itu dengan setengah tertawa
diikuti oleh tawa seisi kelas yang ramai. Klen mengerucutkan bibirnya tanda
kesal. Siswa lain kembali mengacungkan jarinya.
“Iya, sosok Kartini muncul. Apa kamu sudah menemukan jawaban dari
pertanyaan temanmu ini? Apakah Indonesia sudah merdeka?”
“Sudah pak, kalau
saja kita belum merdeka, kita tak akan bisa mengibarkan bendera merah putih. Indonesia
tak mungkin menjadi anggota PBB. Salah satu syarat menjadi anggota PBB adalah
merdeka. Nyatanya, Indonesia sudah menjadi anggota PBB ke-60 kan, Pak?” Clara,
si peringkat pertama kelas bicara. Pak Harsana hanya mengangguk-angguk tanda
setuju. Bukan sebenarnya, ia hanya menguji sejauh mana generasi muda seperti
mereka peduli pada makna kemerdekaan.
“Sebentar Pak, saya ingin
bertanya lagi. Kemarin, saya menemukan sebuah surat berwarna merah putih yang
terjatuh di depan pintu kelas. Setelah saya baca, isi surat itu adalah tentang
kritikan sikap para siswa yang buruk dan tidak mencerminkan sikap cinta tanah
air. Surat itu seperti menyuruh kami, para pemuda untuk berubah dan memberi
bakti kepada negeri ini. Menjadi pahlawan untuk negeri yang sebentar lagi akan
rusak ini. betul kan pak? Itu maksud surat yang anda tulis kan?” Selidik Klen.
“Eeh, Apa pak guru yang menulis surat itu, pak?” tanya Beno.
“Heheheh, ketahuan ya...” Pak guru pun menggaruk kepalanya yang
sebenarnya tidak gatal, hanya untuk menghilangkan kegugupannya di depan murid
beliau yang ternyata lebih pintar dari yang beliau pikirkan.
“Sebenarnya bapak menulis surat itu untuk pengamatan saja.
Bagaimana pendapat kalian tentang Negara Indonesia yang sekarang sedang
renggang akibat perang, perbedaan pendapat, korupsi, penembakan polisi, dan
masalah lainnya yang terjadi di negeri ini. Bapak ingin melihat bagaimana
reaksi para penerus bangsa seperti kalian jika diberi suatu masalah seperti
itu. Dan bapak lihat, Klen sangat pantas untuk menjadi sosok pahlawan ya, Klen?
Bapak berharap kamu dapat mengajak temanmu semua untuk mencintai negeri ini.”
“Yah, Bapak. Dia memang dari dulu membenci Indonesia yang seperti
ini, Pak! pertama saya malah bepikir kalau yang menulis surat itu adalah dia!
Rupanya malah Bapak yang menipu kami.” Ucap Ucup, ketua kelas kelas XI IPA 1.
“Sebentar, siapa nama Bapak? Ah, saya lupa. Bapak Harsana.” ujar
Klen sembari menulis nama tersebut di selembar kertas.
“Heh, untuk apa nama bapak kamu tulis disana?” tanya pak guru
“Saya akan melaporkan Bapak ke kepala sekolah, Pak. Karena Bapak
telah menipu kami semua, betul tidak kawan?”
Tak ada jawaban. Semua mata menatap Klen dengan wajah bergidik
geli. Apa benar dia akan seberani itu hanya karena sebuah surat yang sebenarnya
bertujuan untuk menyadarkan para pemuda?
“Yah, kalian tak bisa diajak kerja sama ya? Aku kan hanya bercanda!
Aku ingin memberi tahu pak kepala
sekolah tentang metode pembelajaran pak Harsana yang bagus ini. Tidak membuat
murid menjadi bosan. Sebuah surat misterius untuk observasi sikap siswanya
tentang kemerdekaan. Kan bagus? Bisa saja pak guru jadi guru teladan.”
Seketika hawa mencengkam menghilang dan berubah menjadi tawa yang
menggembirakan untuk semua. Tak terasa waktu ingin menyudahi perbincangan
antara kemerdekaan dan generasi muda. Bel pulang sekolah berdering.
“Ya, sayangnya waktu telah
memisahkan kita. Kita bahas kemerdekaan di lain waktu. Sekian dan terima
kasih.” Pungkas guru sejarah itu dan sekilas ia tampak tersenyum kepada Klen.
Klen agak terkejut akan sikap pak Harsana walaupun begitu ia membalas senyum
itu. Senyum khas sosok pahlawan.
***
Sepulang sekolah Klen merasa bosan karena menunggu ibunya dari
rumah kakeknya. Biasanya Klen akan berbincang dengan para pahlawan mengenai
keadaan Indonesia yang memburuk setelah 72 tahun merdeka. Klen menceritakan
semua peristiwa yang terjadi seperti pertikaian, egoisme, korupsi dan yang
lainnya. Bertemu dengan para pahlawan bukanlah hal yang mudah. Sering kali ia
dilarang oleh penjaga dunia mereka untuk bertemu. Klen harus memohon dan
beralasan terjadi perang di dunia nyata. Barulah penjaga dunia arwah
mengizinkan Klen bertemu dengan pahlawan. Tak semua pahlawan dapat ia temui.
Dan kali ini, Klen akan bertemu dengan presiden pertama Republik Indonesia,
Insinyur Soekarno dan Bung Tomo, sosok pahlawan perfeksionis yang selalu mempunyai
gelora semangat ketika berpidato dan membuat yakin para rakyat Indonesia.
Cara Klen menemui para pahlawan yang sudah wafat adalah melalui
perantara teman sekelasnya, Beno. Beno
bisa melihat dunia arwah sejak kecil. Jarak rumah Klen dengan Beno tak jauh.
Hanya terpaut 4 rumah tetangga.
“Permisi, Ben!” sapa Klen setelah ia melihat pintu depan rumah Beno
terbuka.
“Ah, Klen ya. Ayo masuk!” Beno pun mempersilahkan Klen masuk.
“Ben, seperti biasa aku ingin bertemu dengan pak Karno. Apa kamu
sibuk, Ben?” tanya Klen meyakinkan. Ia sedang semangat sekali untuk bertemu
dengan tokoh pahlawan favoritnya.
“Aku tidak sibuk, Klen. Apalagi untuk hal semacam ini. Jarang loh
ya, anak SMA seperti kamu yang ingin pergi ke dunia arwah untuk bertemu dengan
pahlawan. Padahal, biasanya orang lain meminta tolong padaku untuk bertemu
dengan orang yang mereka kenali saja. Jika semua pemuda sepertimu, aku yakin
Indonesia akan baik-baik saja kedepannya.” Puji Beno. Memang, pemuda masa kini
hampir tak ada yang 100% mencintai negeri Indonesia. Lagu-lagu nasional
berganti menjadi lagu pop dan rock. Film edukasi silih berganti menjadi
K-Drama. Dan entah dari mana dan kapan bermula.
Setelah persiapan selesai, mereka duduk bersila di kamar Ben. Klen
diminta Ben untuk rileks dan memejamkan
mata. Sesaat sesudah itu, Klen sudah berada di rumah kosong dengan perabotan
yang terlalu tradisionalnya sampai jarang ditemukan di tahun 2017 ini.
Klen berjalan ke ruang tamu, dan rupanya di tempat itu telah ada 2
sosok laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya.
“Pak Karno!” ucap Klen setengah teriak, membuat dua orang tersebut
berhenti bercakap-cakap. Beliau pun membalikkan badan dan menghampiri Klen.
“Siapa kau, Nak? Mengapa kau datang ke dunia ini?” tanya Soekarno
dengan suara britonnya.
“Saya Klen, Pak! Saya datang dari tahun 2017 ingin menceritakan masalah
tentang keadaan Indonesia saat ini. Saya ingin mendengar pendapat para pahlawan
tentang generasi pemuda sekarang, Pak!” tegas Klen. Sungguh, Indonesia membutuhkan
pemimpin seperti Klen.
“Oh, sudah 72 tahun ya Indonesia merdeka. Ayo Klen, duduklah! dan
ceritakan bagaimana keadaan Indonesia sekarang!”
“Menurut saya, Indonesia memang sudah merdeka, Pak! Tapi Indonesia
seperti hampir kehilangan makna kemerdekaannya. Kita kembali dijajah pak, tapi
bukan penjajahan fisik seperti tahun Bapak. Penjajahan teknologi yang merusak
moral generasi muda, eksploitasi sumber daya alam oleh negara asing dan kita
malah membayar mahal oleh itu. Generasi muda sudah tak peduli dengan apa yang
dimaksud mempertahankan kemerdekaan. Lalu, apa yang harus saya lakukan, Pak?”
panjang lebar Klen menjelaskan seperti ia sedang berkonsultasi kepada psikiater
handal akan masalah yang memberatkannya.
“Kau lihat itu, Bung Tomo! Rupanya masih ada anak muda yang peduli
kepada Indonesia seperti Klen ini. Generasi muda memang tak bisa diandalkan.
Klen! Kami sering melihat apa yang terjadi di Indonesia dari dunia ini. Hanya
mereka tak pernah mengetahuinya. Peristiwa- peristiwa menyedihkan sangat
memukul batin kami para pahlawan yang dulunya berjuang demi kemerdekaan atas
taruhan nyawa kami sendiri. Banyak perbedaan pendapat yang malah tak
diselesaikan dengan musyawarah. Mementingkan kepentingan pribadi hingga kaum
minoritas yang benar pun tertindas dan mereka tak pernah bercermin atas sikap
diri. Mereka tak lagi peduli yang bahkan ketika mereka dijajah dengan teknologi
tak kenal ampun pun tetap mereka terima sebagai hiburan saja. Mereka tak
melihat akibat buruk yang timbul atas sikap mereka. Hingga tak lama lagi,
mereka tak akan sadar jika perbatasan negaranya dicuri oleh negara tetangga.”
Insinyur Soekarno tampaknya marah dan kecewa atas sikap generasi yang tak
peduli dengan Indonesia.
“Betul, Karno. Saya kecewa berat dengan mereka. Lahir dimanakah
mereka ini? Mana bakti mereka kepada negeri pertiwi? Indonesia akan hancur jika
tetap seperti ini. Indonesia butuh pahlawan untuk perubahan yang lebih baik.
Merdeka, bukan berati bebas, Bung! Merdeka itu tentang bertahan. Bertahan dari
semua gangguan dan kehancuran negeri. Kau Klen! Kau harapan kami! Kami hanya
bisa berharap, akan muncul Klen lainnya untuk membantumu membangun Indonesia
impian semua orang. Indonesia harus bersatu, Klen. Mereka harus mengalahkan
egoisme mereka sendiri dan bersusah-susah bersama. Dan mereka akan menemukan
arti kebersamaan setelah semua itu. Itu awal dari semuanya. Kau harus sampaikan
pesan-pesan ini kepada mereka. Berikan contoh yang baik untuk mereka dan
jadilah pemimpin Indonesia yang bijak, buat kami bangga denganmu, Klen.”
Pungkas Bung Tomo.
“Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa
pahlawan-pahlawannya” ujar Soekarno dan Bung Tomo hampir bersamaan.
“Titipkan salamku pada Guru Sejarah Indonesia mu itu, Klen. Aku
menghargainya.” ucap Bung Tomo sambil tersenyum.
Perlahan Klen menjauh dari mereka, sesaat ia melihat dua sosok
pahlawan kemerdekaan itu dengan mengepalkan tangan kepada dirinya sebagai tanda
para pahlawan mendukungnya dari dunia arwah. Dan akan selalu mendukung negeri
yang pernah mereka perjuangkan kemerdekaannya.
***
“Pagi Pak! Bapak dapat salam dari seseorang.” Sapa Klen kepada Pak
Harsana di pagi harinya.
“Dari siapa, Klen?” tanya pak Harsana penasaran.
“Bung Tomo pak, beliau berkata jika beliau menghormati pak
Harsana.” jawab Klen dengan senyum yang sumigrah.
“Darimana kamu tahu? Memangnya kamu bertemu dengan Bung Tomo?”
Tentu saja Pak Harsana merasa janggal. Mustahil untuk orang di jaman sekarang
bisa bertemu dengan orang yang sudah mati. Klen pun hanya menyunggingkan bibir
dan mengangkat bahunya.
“Lewat mimpi pak. Walaupun dari mimpi, salam harus tetap
disampaikan kan, Pak?” jawab Klen lalu ia berlari meninggalkan Pak Harsana.
Generasi pemuda seperti sosok pahlawan yang rela mati demi
kemerdekaan akan terus ditunggu oleh bumi pertiwi ini. Karena tanpa mereka
sosok pahlawan, Indonesia akan kehilangan kemerdekaannya lagi.
Setelah bertemu dengan Soekarno dan Bung Tomo, Klen bertekad untuk
menyalurkan semangat juang kepahlawanan kepada teman-teman sepantarannya. Agar
Indonesia yang didambakan setiap orang dapat terwujud. Klen, pahlawan
kemerdekaan kedua.
[THE END]
Komentar
Posting Komentar