Bukan Kita, Tapi aku!



Kecewa? pernah merasa kecewa? Tentu saja sering. Namun tergantung bagaimana diri kita menanggapinya. Marah? Balas dendam? atau hanya... diam? Mungkin, jika memilih marah, itu akan berakhir buruk, pada umumnya. Balas dendam? Oh, ayolah. Itu tak akan selesai seperti yang kamu inginkan. Seperti ketika kamu pernah mengecewakan orang, seperti apa respon yang ingin orang itu berikan kepadamu... tentu saja memaafkan kita. Hal tadi adalah teori,namun jiwa dan rasa sukar dikendalikan oleh kebanyakan orang. Kita bisa marah, agar orang itu tahu jika kita tak menyukai perbuatan itu. Kita dapat balas rasa kecewa itu dengan pelajaran yang baru. Diam? jangan hanya diam, kecuali kalau kamu ingin dia tak pernah mengerti kesalahan dirinya sendiri. Bantu dirinya untuk memperbaiki diri dengan mengingatkan, tak perlu marah agar rasa kecewa itu tak terulang kepada orang lain, cukup diri kita yang terakhir.

Berikut contohnya, buruk sih. Jangan tiru diriku yang hanya diam atas kekecewaan. Kubuat pengecualian pada diri ini karena aku tak bisa berbicara dengan baik. Kalian percaya itu? Terserah kalian juga. Lagipula itu tak penting. Berikut aku hanya ingin melampirkan rasa kecewaku yang kusulap menjadi sebuah coretan tanpa arti. Salah, biar kuralat. Ada arti yang mungkin hanya aku yang dapat mengerti. Haha, tentu saja. karena aku yang membuatnya bukan? Entahlah, aku tak tahu pandangan orang lain terhadap puisi ini.




BUKAN KITA, TAPI AKU!
Bukan kita, tapi aku!
Yang tak pernah sudi menyimpan asa
Yang hanya dapat memandang senja penuh damba
Tak ada rasa, tak ada warna
Yang ada hanya siluet renda bunga kenanga
Hela napas disiku tak pernah sekali mereda
Bukan kita, hanya aku!
Yang berdiri dibawah sorotan lampu
Mengais nilai diri atas setumpuk kertas
Pada deretan nilai berselimut belas
Sekejap kalian rampas dengan katrol tanpa bekas
Hati bukan hati akar alfafa
Tangan bukan tangan sang grandis
Mereka berdarah tanpa amarah yang menggerah
Hanya aku, tiada kita!
Hanya bayangan siluet renda bunga kenanga
Berbisik karna angin tak ingin langsung bercerita
Hati tersayat kala mata tak bersahabat
Mata terpelanjat kala orion menunjuk bakat
Tiada kita, hanya udara yang hampa.
Bukan aku, tapi kalian!
Tersenyum getir dalam kelabut bayangan.
Tak ada rasa iba bahkan kala dunia hampir hina.


Aku mungkin tak bisa marah. Mereka menganggapku orang baik? Hahaha, aku marah, kesal, sungguh! Tapi aku sadar. Hal itu tak berguna. Lebih baik aku mecoba mengatakan kepadanya secara langsung, jika ia salah kan? Jadi, kupikir diam atau balas dendam bukan cara terbaik untuk melampiaskan emosi. Sekian dulu ya. Semoga bermanfaat readers! Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Kemerdekaan Kedua

Tumbuhan Pemakan Serangga, Si Kantong Semar

BUKAN SEKEDAR ANGAN!