Akal, aku merindukanmu.
Tahu salah satu ciri makhluk hidup? mungkin salah satu
jawabannya adalah bergerak. Tentu saja! Makhluk hidup adalah 'sesuatu' yang
dinamis. Tidak mungkin tidak bergerak. Dan bergerak sendiri memiliki beberapa
arti, konotasi maupun denotasi. disini, saya ingin menuliskan arti konotasinya.
Karena saya yakin arti bergerak secara denotasi itu sudah jelas berpindah
tempat dan sinonim lainnya.
Sebagai manusia yang diberkahi akal oleh Tuhan, akal yang tidak
dimiliki oleh makhluk hidup lain, kita tentu dapat mengetahui apapun yang benar atau salah.
Oh ya, tentu saja sepanjang tak ada gangguan kejiwaan atau keakalan dalam diri
kita. Tapi, baru-baru ini --- sekitar 5 tahun ini--- saya amati
(walaupun saya bukan seorang pengamat) akal sudah jarang sekali digunakan. Atau
mungkin mereka menggunakannya, tapi 'sesuatu' telah merusak sistem kerja akal.
Dengan kata lain, sesuatu itu mengubah struktur fungsi akal menjadi lebih
rendah kualitasnya. Dan parahnya, manusia secara global tidak menyadari akan
perubahan itu. Mereka langsung menerimanya dan melakukan apa yang menurut akal
mereka benar. Padahal, itu semua telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga
semuanya terlihat 'benar'. Pernyataan yang terlihat rumit ya?
Jika disimpulkan, sebenarnya sesuatu itu telah berhasil membuat
akal menjadi rusak. Membenarkan apa yang sebenarnya salah, melupakan kebenaran
yang asli, membuat manusia menjadi seperti hilang akal. Ya, sesuatu itu
berhasil mengubah dunia ini. Dunia yang beratus juta kilometer luasnya. Tapi,
tau apa sesuatu itu? Bukankah aneh jika ingin menghilangkan sesuatu itu tanpa
mengetahui apa sesuatu itu.
Mari mulai dengan hal yang kecil, atau hal yang ada disekitar
kita. Seperti buku, pensil, pakaian, gambar, smartphone yang Anda pegang,
makanan, dan masih banyak lagi. Bukankah mereka semua benda mati? dan mereka
tentu diciptakan oleh manusia. Lagi-lagi manusia. Tunggu, apa ada yang berpikir
jika manusia sendiri yang menyebabkan akal itu rusak? Maka saya akan mengatakan
terlalu cepat untuk mengambil sebuah kesimpulan yang seperti itu. Manusia
secara fitrah, tidak memiliki sesuatu yang merusak. Pasti mereka mendapatkan
sesuatu itu dari yang lain. Kembali, benda mati yang disebutkan diatas,
diciptakan oleh manusia, namun tidak semua manusia menciptakannya. Karena itu
sebagian mereka membelinya. Dan... kodrat manusia adalah makhluk yang mudah
bosan membuat si pencipta benda terus mencari inovasi baru, perubahan baru
untuk menjadi berbeda. Parahnya, hal yang berbeda itu terkadang diidentikkan dengan
sesuatu yang buruk. Mungkin karena kebanyakan manusia sudah beranggapan
kebaikan adalah hal yang merepotkan, membosankan. Maka, si pencipta benda yang
ingin menjadi berbeda dengan cara apapun menciptakan buku, pensil,
makanan, smartphone yang baru dengan 'ada' disana hal yang baru. Hal baru yang
membuat manusia lain tertarik. Disisi lain, hal yang membuat manusia tertarik,
adalah hal yang buruk. Ada yang menyangkal? Karena bisik setan, iblis selalu
melalaikan manusia. Benar?
Disini, kita mendapatkan satu jawaban. Jika sesuatu yang dapat
mengubah akal manusia itu adalah 'keburukan' yang berasal dari setan, iblis,
pikiran, mindset yang sudah tercemar oleh keburukan itu sendiri. Lalu, apa jika
kita menyalahkan sesuatu yang buruk itu mereka akan berhenti memengaruhi kita?
Tidak mungkin! Mereka ini pantang menyerah, dan sudah saya katakan mereka telah
berhasil. Kedengkian, iri hati, ambisius, egois, benci, cinta, semua hal itu
menjadi lubang untuk masuk ke akal kita. Dengan semua hal buruk yang sudah
menjangkit di hampir seluruh bagian bumi ini, manusia yang menyadari, merasa
dunia ini salah, yang masih menyayangi akal pertamanya harus bertahan bahkan
harus berjuang untuk mengembalikan kejayaan akal pertama manusia. Menyadarkan
seluruh manusia di muka bumi akan kehancuran dunia yang akan terjadi sebentar
lagi. Kehancuran yang disebabkan oleh sesuatu yang menjangkit akal manusia.
Dengan apa?
Toleransi, kasih sayang, senyuman, berbagi, kepedulian. Percaya
atau tidak, semua itu akan mengubah dunia ini menjadi dunia yang diimpikan
manusia. Segelintir manusia yang 'berakal' harus bergerak. Bukan hanya
mengeluh, meruntuki dunia yang hampir hancur tanpa melakukan apapun?
Hidup? Bergeraklah. Berubahlah. Bertahanlah.

Komentar
Posting Komentar